Andien Aisyah

Andien Logo Black
  • Home
  • News
  • Video
  • About Us
  • Contact Us
Andien Logo Black
  • Home
  • News
  • Video
  • About Us
  • Contact Us

Eksklusif Andien Menuju Konser Suarasmara: Kalau Ditanya ke Mana Gue Merasa Pulang, Ya ke Jazz

Pop Hariini by Pop Hariini
November 14, 2025
Pophariini Eksklusif Andien Menuju Konser Suarasmara

Pophariini Eksklusif Andien Menuju Konser Suarasmara

Jelas dalam ingatan bagaimana pertama kali saya terpapar musik seorang musisi bernama Andien. Suatu hari pulang sekolah di tahun 2010, saya menyalakan televisi untuk menyaksikan acara musik. Di salah satu stasiun, videoklip “Saat Bahagia”, sebuah single kolaborasi antara Ungu dan Andien tayang pada segmen chart acara musik tersebut.

Ingat betul kejadian hari itu, namun lewat begitu saja momennya dan tidak membuat saya ingin tahu lebih lanjut siapa sosok kolaborator Ungu. Bagi saya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan adalah penggemar musik pop punk, Andien hanyalah musisi pop yang memang biasa hadir di TV. Tak ada yang spesial.

Maju ke beberapa tahun setelahnya, saya yang entah kenapa akhirnya bisa menjadi pendengar The Cash, band yang beranggotakan dua mantan personel Club Eighties, Vincent dan Desta, kembali dipertemukan dengan Andien lewat video Andien feat. The Cash – Let It Be My Way | (Andien Metamorfosa) di kanal YouTube Berlian Entertainment.

Video berdurasi 11 menit ini menampilkan konser Metamorfosa sebagai perayaan 15 tahun karier Andien. Meski lebih banyak porsi lawakan para personel The Cash (Ringgo Agus Rahman, Tora Sudiro, Vincent Rompies, dan Desta) saat itu, aksi Andien feat. The Cash dalam video berhasil memberikan ketertarikan lebih bagi saya untuk mendengarkan musiknya, paling tidak lewat lagu “Let It Be My Way”.

Ketertarikan saya terhadap musik dari Andien akhirnya memuncak saat sedang membaca (atau menonton, jujur saya agak lupa) wawancara Kareem Soenharjo, sosok di balik BAP. yang musiknya sangat saya kagumi. Saat itu ia menyebutkan album Kinanti merupakan album favoritnya. Familiar dengan nama Andien, saya langsung mendedikasikan waktu untuk menyimak album ini.

Lagu pertama yang disetel “Masih Bebas”. Reaksi pertama saya, mengecek kembali tahun rilis album Kinanti. “Hah? 2002?” itu dalam pikiran ini saat membuka halaman Wikipedia. Bagaimana bisa orang-orang tahun 2002 menciptakan lagu dengan beat yang masih relevan sampai tahun 2020-an? Pada akhirnya saya lanjut mendengarkan sampai akhirnya bisa menyimpulkan album yang ‘lebih maju dari zamannya’ ini sebagai salah satu album lokal terbaik.

Sepertinya cukup basa-basi saya di enam paragraf barusan. Itu hanya sebagai konteks bahwa Andien adalah sosok solois yang sudah bermusik selama 25 tahun, melewati berbagai zaman tren permusikan Indonesia, dan saya tahun ini berusia 27 tahun.

Tepat 10 Oktober lalu, Pophariini berkesempatan untuk menerima kunjungan Andien di kantor kami, Mad Haus. Agenda hari itu berbincang dengan sang solois tentang konser perayaan 25 tahun bertajuk Suarasmara yang akan dihelat tanggal 15 November 2025 di Istora Senayan.

Sesi wawancara dimulai dengan pertanyaan sederhana tentang bagaimana Andien mengenang momen yang mengubah cara pandangnya dalam bermusik. Pertanyaan ini terpikir karena kami melihat dalam 25 tahun karier, Andien sudah melewati banyak sekali fase dalam hal eksplorasi musik dan genre.

“Mungkin yang justru paling mengubah gue memandang musik adalah ketika gue gak tau mau bikin apa lagi. Gak mungkin 25 tahun gue kayak feeling inspired terus. Pasti ada rasa kayak, ‘Apa lagi ya? Direction-nya gimana? Mau bikin gimana lagi?’. Itu di saat gue merasa bahwa ternyata gue tuh emang gak bisa di-identify dengan sebuah genre musik. Karena musik ya musik, buat gue gitu,” ucap Andien.

Selama melakukan riset tentang Andien untuk sesi wawancara ini, kami menyaksikan lebih dulu video manifesto untuk konser Suarasmara. Dalam video berdurasi 2:07 menit tersebut, Andien tampil menemui beberapa versi dirinya. Ia pun menjelaskan makna di balik video.

“Gue tuh selalu banyak bertanya ke orang lain. Tapi ternyata jawabannya di gue sendiri. Kadang gue ngerasa gak pede, gue gak ngerasa bisa menjawab, gue gak ngerasa kompeten untuk menjawab. Tapi ya ternyata emang harus ada di gue lagi (jawabannya),” ungkapnya.

Obrolan pun berlanjut ke bagaimana konser Suarasmara bisa terjadi, dan apa saja yang akan Andien lakukan dalam perayaan 25 tahun kariernya. Simak langsung di bawah ini.

Konser Suarasmara digambarkan sebagai selebrasi dan perjalanan rasa selama 25 tahun. Silakan ceritakan!

Jawabannya akan agak panjang. Kalau dari segi musiknya sendiri, gue waktu awal kepikiran bikin konser ini, menurut gue kayaknya gak mungkin gak jazz. Karena kalau gue melihat diri gue selama 25 tahun, gue tuh memang cukup eksploratif dan ke depannya akan kayak, “Oh, pengin bikin ini, pengin bikin itu.” Apa yang belum pernah gue bikin, gue pengin bikin gitu. Kayak menikmati hidup aja sebenarnya. Cuma kalau ditanya ke mana gue merasa ‘pulang’, ya ke jazz.

Makanya kayak kalau anak-anak manajemen gue lagi ngeliat gue nyanyi jazz gitu, which mereka jarang sekali (lihat) gitu, mereka kayak, “Wah..” ada gitunya. Tapi ya no wonder, mungkin karena gue juga ngerasa pulang. Jadi karena gue merasa ya udahlah, ini konser gue dan sebenarnya gue ngerasa belum pernah ada penyanyi perempuan yang benar-benar mempresentasikan jazz orkestra di konser dalam skala yang cukup besar, gue mau yang kayak gitu.

Nah, aransemennya pasti akan menyesuaikan. Walaupun gak semuanya nanti akan dibuat se-jazz itu. Justru kami ingin mempresentasikan jazz, tapi yang warnanya tuh kini, makanya nanti ada kolaborasi. Lo bayangin aja kayak jazz orkestra, tapi ketemu White Chorus tuh gimana sih, gitu kan. Atau ketemu sama Wijaya 80, menurut gue menariknya ada di situ. Cita-cita gue sebenarnya adalah bisa mem-present jazz ke audience yang bahkan gak ngerti jazz sama sekali, tapi mereka (penonton) bisa tiba-tiba (berpikir), “Oh, ini toh jazz. Ih, seru ya.” Jadi kayak itu sekadar stigma aja, bahwa itu susah dan yang lain-lain. Jadi gue ingin memperkenalkan dengan gaya yang seru, yang kini gitu.

In terms of panggung dan segala macam, ya kalau dilihat dari poster-poster gue sebenarnya udah agak kerasa sih kayaknya nanti presentasi dari si panggung Suarasmara dan layout atau dancer-nya akan seperti apa. Gue bisa bilang bahwa yang membedakan dari konser lainnya adalah biasanya kan kayak, ya udah nyanyi aja gitu dari awal sampai akhir. Kalau Suarasmara ini dibagi menjadi empat act. Di setiap act-nya nanti akan ada nuansa yang beda-beda. Jadi nuansanya act pertama gini, tapi nuansa kedua beda total, nanti act ketiga beda total, act keempat juga beda banget.

Itu act-nya nanti per album?

Gak, act-nya kami bikin aja sendiri [tertawa]. Jadi kami bikin aja cerita sendiri. Walaupun nanti bukan cerita ya, tapi lebih ke nuansa atau vibe yang ingin dibawakan karena agak susah kalau harus mentranslasi gue ke dalam satu bagian, karena gue pun merasa kayak dari album pertama ke kedua beda, ketiga beda, keempat beda gitu. Sampai hari ini juga beda-beda terus. Walaupun gue ngerasa itu semua adalah gue gitu. “Gue bunglon. Gue bisa dan senang-senang aja kok nyanyiin berbagai macam gaya yang seperti itu.” Makanya kami membagi ini menjadi empat act.

Berarti ada sentuhan personal ya?

Kalau sentuhan personal pasti (ada) banget karena gue ngerasanya, selain dari 25 tahun berkarya itu sendiri, guenya tahun ini kan pas 40 tahun. Jadi gue ngerasa kayak pas banget, kayak orang bilang “Life begins at 40.” Cie gitu [tertawa], tapi maksud gue ini fase kehidupan yang baru lagi. Kalau dulu waktu gue konser pertama belum punya anak, sekarang gue udah punya anak dua, berarti ada sebuah momen yang menurut gue mau gak mau pasti affecting my music career juga, misalnya dalam kurun waktu 10 tahun ini gue merilis banyak sekali lagu yang tentang anak gue. Jadi saling complementing each other, gue akan ada sentuhan personalnya juga di konser.

Selama dua dekade lebih, Andien tak jarang kolaborasi dengan banyak musisi lintas generasi. Apa yang membuat kolaborasi ini penting bagi Andien?

Kolaborasi penting banget karena gue jadi bisa nge-stretch POV gue tentang sebuah karya. Kalau ada karya yang menurut gue, “Ini kayaknya dibawainnya gini”, tapi ternyata dengan berkolaborasi itu jadi lebih kaya, sehingga itu menjadi penting. Gue sendiri juga orangnya cukup penasaran. Misalnya kayak dua tahun lalu, bikin (lagu) sama Basboi. Kan cukup aneh, tapi buat gue ini menyenangkan karena gue jadi lebih rich. Gue belajar banyak dari kolaborasi. Kalau dulu mungkin gue kolaborasi dengan musisi-musisi senior, itu juga gue belajar banyak banget. Jadi senang banget sih dengan adanya kolaborasi. Dan di era kolaborasi seperti sekarang, ya gue mau menjadi salah satunya. Karena di era dulu waktu pertama kali gue nyanyi, gue ngalamin benar yang namanya bullying dan senioritas di musik. Karena eranya bukan era kolaborasi, beda banget sama sekarang. Makanya sekarang gue senang banget kalau bisa empower teman-teman musisi baru yang kayak baru mulai main atau nanya-nanya segala macam, gue tuh senang banget bisa memfasilitasi mereka.

Berarti ‘kebunglonan’ Andien terpakai sekali di dalam setiap kolaborasi?

Iya kali ya. Maksudnya, ya mungkin juga pola pikir yang gak rigid. Soalnya mungkin ada juga beberapa orang yang ngerasa kayaknya, “Gue begini.” Titik. Dari tahun 2000 sampai sekarang begini gitu. Mungkin agak sulit juga gitu untuk dia ada di tengah industrinya, itu yang sulit.

Artinya yang lo harapkan dari zaman yang sekarang ada di zaman awal lo bermusik itu kolaborasi?

Iya, kolaborasi. Gue ngalamin bullying tuh yang benar-benar kayak dikata-katain, ngerti gak sih? Kayak, “Alah, lo anak kecil, gak bisa nyanyi.” Gitu-gitu.

Bagaimana proses mengajak kolaborator di konser Suarasmara?

Memang ini kan agak beda-beda banget. Kayak sesuai dengan kebutuhan, keperluan, dan apa nuansa yang ingin dituju di dalam konser. Kayak Vina Panduwinata, gue rasanya butuh sosok seorang diva yang entertainer, dan sampai sekarang dia juga masih terus berkarya. Walaupun berkaryanya udah dari tahun 80-an, tapi sampai sekarang benar-benar masih fluid untuk masuk ke anak-anak zaman sekarang. Asyik aja orangnya. Gue benar-benar melihat itu di Vina Panduwinata. Semoga suatu hari bisa kayak beliau.

Terus kalau ngomongin jazz, gue merasa kayaknya gue gak bisa gak melibatkan Indra Lesmana. Kayak he is the only jazz pianist yang kita punya, yang benar-benar emang ya udah nyemplung ke dalam situ, dan kayak mencurahkan hidupnya untuk itu, dalam banget. Plus dia adalah produser album Kinanti. Jadi kayak, emang dalam perjalanan gue ada beliau.

Kemudian Diskoria karena gue memang baru ada kerja sama single bareng mereka, dan memang sering juga manggung bareng mereka. Jadi kayak udah seru gitu. Tadinya pengin ada LIN (Laleilmanino), cuma mereka manggung di Surabaya. Harusnya Diskoria dan LIN. Cuma ya udah, gak apa-apa, harus terima [tertawa].

Kemudian yang berikutnya ada Wijaya 80 karena memang ada satu lagu yang aku tuh harus berkolaborasi dengan penyanyi laki-laki, tapi kayaknya kalau another penyanyi laki-laki kan kayaknya ketebak, jadi kami ambil mereka untuk mempresentasikan gaya baru dari si lagu ini.

Kemudian yang orang bilang cukup aneh memang White Chorus. Tapi sebenarnya ternyata gak seaneh itu. Jadi ceritanya, habis konser Hindia waktu itu. Aku tuh nge-DM mereka, aku bilang, “Hai guys, gila gue suka banget sama musik lo. I’m a fan. Lo keren.” Terus mereka balas, “Kyaa Mbak Andien. Ya ampun, beneran nih? Kita tuh kaget banget, soalnya sebenarnya kita bermusik itu referensinya adalah musiknya Mbak Andien,” mereka bilang gitu, merinding gak? Nih, gue aja merinding sekarang ceritanya. Karena menurut gue itu kayak one full circle moment gitu. Kayak, “Lah gue ngefans sama lo, lo malah bermusiknya karena lo dengerin lagu gue.” Itu menurut gue cerita yang menarik. Yang lebih menarik lagi sebenarnya, gue baru telponan itu 3 hari lalu. Gue gak bisa nge-spill terlalu dalam, tapi kira-kira gini ceritanya. Jadi udah 3 bulan yang lalu gue ngomong ke mereka, “Nanti kalian bawain lagu A ya.” Mereka iya-iya aja gitu. Terus semakin lama, semakin dekat, terus tiba-tiba mereka bilang,

“Kita gak bisa bawain lagu A.”

Gue jawab, “Yah kenapa? Kita udah nge-plot segala macem.”

“Gak bisa kayaknya gak mungkin gitu,” kata mereka.

Terus akhirnya gue bilang, “Ya udah kita telponan aja deh.” Akhirnya kami video call ramean gitu. Terus gue nanya “Kenapa?” Ternyata katanya, “Jadi lagu yang Mbak Andien minta ini tuh sakral banget kalau di kalangan Gen-Z. Kita takut banget kalau harus ngerubah lagu itu, kayaknya tuh kita gimana gitu.”

Terus gue sampai bilang, “Gak menurut gue justru gue ngasih lagu ini ke kalian, karena gue yakin kalian bisa bikin dengan gayanya kalian gitu. Gak usah nganggep gimana-gimana.”

Gue juga kaget. Masa sih ada anggapan lagu A ini segitunya gitu. Sakral lagi dibilang. Akhirnya jadi, karena gue yakin mereka yang bisa. Terus mereka akhirnya setuju. Seru banget.

Selain ada kolaborator, music director Suarasmara Tohpati. Bisa diceritakan?

Iya, betul. Gue pengin banget konser Suarasmara ini jazz gitu. Gue juga kemarin nyari-nyari sih, maksudnya kan sebenarnya ada beberapa pilihan. Tapi karena hubungan gue sama Tohpati juga udah enak. Dari album ketiga kan kami udah sering kerja sama bareng dan beberapa waktu lalu (Tohpati) pernah main dengan jazz orkestranya. Karena kan jazz biasanya tuh ditampilkan dengan (format) big band, tapi kalau jazz dengan orkestra itu kayaknya masih jarang banget. Kayak ini ‘jazz big band orchestra’, menarik banget.

Berarti nanti teknisnya lumayan berisiko ya?

Sangat berisiko karena pieces-nya banyak banget, ada 52. Tapi katanya sih secara bunyi akan boom, tapi kami belum latihan gabungan, jadi aku masih belum tau.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Andien (@andien)

Album Metamorfosa menandai babak baru hidup dan musik Andien. Kalau Suarasmara adalah kelanjutannya, kira-kira apa yang berubah dari cara lo mengekspresikan cinta, kehidupan, dan perjalanan batin bermusik?

Sebenarnya gini. Dulu pas (rilis) Metamorfosa gue merasa itu adalah babak baru karena gue juga aru aja menikah. Terus gue ngerasa kayak gue ada di sebuah gerbang, ini kayaknya akan ada sesuatu yang baru nih. Tapi ternyata dalam kurun waktu 10 tahun, gue punya anak dua ya pasti, lo tanya ke siapa pun yang punya anak, sangat mengubah cara pandang kita. Tidak hanya cara pandang, tapi bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri. Yang pasti sekarang kayak, gue ngomongin cinta mungkin udah jauh beda dibandingin 10 tahun yang lalu. Gue ngomongin tentang penerimaan, itu pasti jauh berbeda. Bahkan ketika gue ngomongin tentang kesempurnaan, gue seorang Virgo yang apa-apa kayaknya harus selalu teratur, sempurna, dan segala macam, pelan-pelan tuh harus terima, bahwa kesempurnaan adalah ketika bisa menerima ketidaksempurnaan, kira-kira gitu. Banyak banget cara pandang yang berubah dari situ.

Setelah banyak cerita soal refleksi diri untuk konser Suarasmara, lo justru merilis single “Ujung-Ujungnya Kamu” yang terdengar fun dan groovy. Kenapa lagu ini yang dipilih untuk menyambut konser?

Sebenarnya ada banyak lagu yang udah siap ya [tertawa], karena tahun depan Insya Allah bakalan (rilis) album, jadi udah ada lah beberapa tabungan lagu. Cuma kemarin ini sebenarnya memang harus merilis satu lagu menjelang konser, tapi ketika ditanya, “Siapa nih target market untuk si konser ini?”, kebetulan gue merasa bahwa kalau pendengar lama sih pasti Insya Allah udah sustain ya, mereka juga udah dengar tentang konsernya dan segala macam. Tapi ada keinginan juga gimana caranya supaya bisa nge-stretch mungkin ke orang-orang yang baru dengar Andien di tahun ini bisa datang juga ke situ. Karena basically konser Suarasmara bukan hanya kayak, “Oh, ini nostalgic. Kita mau mengenang lagu-lagu…” bukan kayak gitu. It’s a very fresh concept, bahkan buat orang yang sama sekali gak tau lagu gue, lo akan terhibur juga. Jadi gue mencoba untuk nge-refresh para pendengar juga dan berharap untuk mendapat banyak pendengar baru dari sebuah lagu dengan tema yang cukup mudah dan penyampaian yang cukup kini, serta aransemen yang tetap Andien, tapi mungkin pendekatannya agak lebih 90s. Karena gue kemarin ini pas bikin aransemen lagunya kayak agak kepikiran gaya-gaya Swing Out Sister gitu.

Banyak sekali risiko yang lo ambil. Dari aransemen pakai big band orchestra, sampai gak fokus sisi nostalgic, mengingat semua hal saat ini tentang nostalgia.

Iya, dari awal sebenernya gue tuh agak gak pengin begitu sih. Bukan yang kayak, “Ini konser 25 tahun, tapi kayak evergreen.” Gitu loh. Kayak evergreen tuh udah tinggal ‘The Best Of’ gitu, kayak karier gue udah sebentar lagi [tertawa]. Semoga gak gitu. Jadi kepenginnya dengan gue punya keleluasaan untuk menentukan seperti apa jenis musiknya, berapa pieces yang mau dibawa, ini kayak kesempatan gue untuk berkreasi gak sih? Maksudnya ya udah, seliar-liarnya aja, terserah gue gitu [tertawa].

Di single “Ujung-Ujungnya Kamu”, lo bekerja dengan Clara Riva dan SEEK, dua nama muda dengan warna musik yang kuat. Apa yang membuat Andien tertarik menggandeng mereka dan apa insight baru yang didapatkan?

Sesimpel karena belum pernah kerja sama mereka. Jadi pengen banget bisa bekerja sama, supaya dapat sesuatu yang fresh lagi dari mereka. Terus, yang gue dengar gitu ya. Clara Riva katanya kalau bikin lagu seru-seru banget, terus kayak cepat banget ngarang lagunya. Dan ternyata benar, jadi gue kayak curhat-curhat, tiba-tiba jadi lagu gitu. Tapi memang ada pesanan pengennya tipikal lagunya seperti ini.

Terus SEEK juga udah kenal semuanya dari dulu, tapi belum pernah kerja sama mereka as a SEEK gitu. Jadi akhirnya ya udah, kerja sama dengan mereka. Tentunya gue juga ngasih referensi-referensi seperti Des’ree, Swing Out Sister, terus jadilah lagu ini.

Hal yang menarik buat gue, memang ya gue jadi belajar. Senangnya kerja sama dengan orang baru tuh gitu kayak, “Oh oke, kalau music producer kolektif tuh berarti yang ini ngerjain ini, yang satu ngerjain ini.” Jadi ya, gue banyak belajar.

25 tahun bermusik, ada gak nasihat yang lo harap didapetin waktu baru mulai karier? Mungkin bisa jadi pelajaran juga buat musisi-musisi muda sekarang.

Kalau gue sih berharap dulu ada orang yang ngomong ke gue bahwa, jangan terlalu overthinking karena gue tuh mungkin banyak sekali ketakutan ketika masuk ke industri musik. Ketakutan akan judgement, berbuat salah, segala macam. Bahwa, kayaknya sah-sah aja kok untuk berbuat salah. Jadi jangan terlalu overthinking karena one day semuanya juga turn out just fine. Udah sih itu aja, soalnya itu yang kayaknya jadi insecurity terbesar.

Selain musik, ada apa lagi yang akan dipersembahkan seorang Andien di konser Suarasmara?

Sebenarnya gue udah plan bahwa nanti di area luar konser akan ada exhibition yang sangat menarik. Gue berharap, orang-orang juga bisa menikmati exhibition ini karena sebagai manusia selama 25 tahun, selain musik dan fashion, gue juga mencintai atau mengerjakan banyak hal yang gue yakini berguna buat kehidupan manusia dan bumi. Gue nyemplung ke berbagai macam hal yang berkaitan dengan sustainability dan sosial, makanya gue juga bikin Andien Aisyah Foundation. Di area luar konser nanti akan ada exhibition dari teman-teman local artist, terus dari teman-teman seniman sustainability, dan semuanya akan merespons karya gue. Bukan hanya kayak mereka berkarya, tapi mereka berkarya dengan respons lagu. Juga ada satu spot nanti dari seniman autistik, mereka juga respons karya gue juga. Jadi the whole Andien itu tuh tidak hanya bisa dinikmati di area konser, tapi di area luar konser juga.

Selain itu, nanti dari energi atau daya yang dikeluarkan si konser Suarasmara juga akan ada Carbon offsetting-nya nanti. Terus, nanti sebagian dari penjualan tiket konser ini akan disalurkan melalui Andien Aisyah Foundation untuk membangun Sekolah Anak Percaya. Jadi Sekolah Anak Percaya adalah sekolah gratis buat anak pemulung yang aku bikin, dan sekarang udah mau titik kelima. Jadi titik kelima ini sebagian dananya itu akan dari penjualan tiket konser Suarasmara.

Source Link

Logo Pophariini
Pop Hariini

Pophariini adalah rumah perayaan budaya populer sebagai ruang tumbuh dalam mewujudkan kreativitas yang terus bergerak dinamis, menjahit legasi dari masa lalu dan kini untuk menjadi bentuk adaptif di setiap momen kehidupan.

Related Posts

Andien Merayakan Hidup, Cinta, Dan Karya

Andien Merayakan Hidup, Cinta, dan Karya

2025 menjadi tahun penuh selebrasi bagi Andien. Sebuah periode yang menandai 25 tahun berkarya,...

Konser Suarasmara 25 Tahun Andien Berkarya 3

Babak Baru Andien

Selama seperempat abad penyanyi Andien telah berkiprah di panggung musik Indonesia. Untuk mensyukuri sekaligus merayakannya, penyanyi yang mengawali kariernya di...

Konser Suarasmara 25 Tahun Andien Berkarya 3

Konser Suarasmara 25 Tahun Andien Berkarya

Konser Andien bertajuk Suarasmara yang diselenggarakan Sabtu (15/11/2025) di Istora Senayan, Jakarta ternyata merupakan salah satu proyek paling personal dalam...

Konser Suarasmara Andien, Perwujudan Mimpi Masa Kecil Sang Penyanyi

Konser Suarasmara Andien, Perwujudan Mimpi Masa Kecil Sang Penyanyi

Konser Andien bertajuk Suarasmara yang diselenggarakan Sabtu (15/11/2025) di Istora Senayan, Jakarta ternyata merupakan salah satu proyek paling personal dalam...

Same Love New Story, Is It Worth It With Andien

Same Love New Story, Is It Worth It? with Andien

So Sarra & Canti are back in the studio dan kali ini, kita kedatangan salah satu diva Indonesia yang juga...

Andien Fokus Kejar Karir Bermusik Sejak Masih Remaja

Andien Fokus Kejar Karir Bermusik Sejak Masih Remaja

Penyanyi Andien siap menggelar konser untuk meryakan 25 tahun berkarir di industri musik Indonesia. Lewat konser bertajuk Suarasmara, Andien akan...

Andien Rasanya Nangis Sebelum Manggung

Andien : Rasanya Nangis Sebelum Manggung

Raditya Dika ngobrol bareng Andien Aisyah yang bercerita perjalanan karir 25 tahun berkarya di industri musik dan membahas persiapan konser...

Andien 25 Tahun Berkarya! Konser Dengan Berbagai Genre Musik

Andien 25 Tahun Berkarya! Konser Dengan Berbagai Genre Musik

Andien kali ini datang ke podcast To Be Honest dengan cerita yang super seru! Ternyata 25 tahun berkarya di industri...

Dari Plogging Ke Panggung Suarasmara

Dari Plogging ke Panggung Suarasmara: Kolaborasi Hijau Andien, Trash Ranger Indonesia, dan Rekosistem

Menyambut konser Suarasmara yang akan datang, Andien Aisyah—musisi sekaligus Eco Living Advisor Rekosistem—mengajak masyarakat untuk memulai perayaan dengan cara yang...

Andien Plogging Di Cfd Jakarta Menuju Konser Suarasmara

Pertama Kali, Andien Plogging di CFD Jakarta Gaungkan Isu Keberlanjutan Lingkungan Menuju Konser Suarasmara

Penyanyi solo Andien baru-baru ini melakukan aksi plogging, yaitu kegiatan memungut sampah sambil berolahraga, di sepanjang rute Car Free Day...

View this post on Instagram

A post shared by Andien (@andien)

Andien Logo Black 1
Andienaisyahfoundation Logo 04 1

CONTACT US

Press Kit

Profile

Photo Gallery

Branding

Ig Black
Tt Black
Fb Black
Yt Black

2024 Andien. All Right Reserved

Designed by 24 Hour Indonesia

Andien Logo Black 1
Andienaisyahfoundation Logo 04 1

CONTACT US

Press Kit

Branding

Profile

Photo Gallery

Tt Black
Ig Black
Yt Black
Fb Black

2024 Andien. All Right Reserved

Designed by 24 Hour Indonesia

Andien Logo Black 1
Andienaisyahfoundation Logo 04 1

CONTACT US

Press Kit

Branding

Profile

Photo Gallery

Ig Black
Tt Black
Fb Black
Yt Black

2024 Andien. All Right Reserved

Designed by 24 Hour Indonesia

5438